Berikut kami tampilkan long list calon peserta sertifikasi gur RA/Madrasah Tahun 2013.
- Daftar Long List PNS Agama
- Daftar Long List Non PNS Agama
- Daftar Long List PNS Umum
- Daftar Long List Non PNS Umum
Islam Wetu Telu adalah sistem kepercayaan sinkretik hasil saling silang ajaran Islam, Hindu, dan unsur animisme dan antropomorfimisme (Boda). Komunitas Islam Wetu telu adalah segolongan minoritas dari etnis Sasak penganut sistem kepercayaan sinkretik hasil saling silang ajaran Islam, Hindu dan unsur animisme dan antropomorfimisme (Boda). Adanya sikritisme semacam itu tercermin pula pada sejumlah lontar yang ditemukan di Lombok, banyak diantara lontar tersebut yang dimulai dari lafal “Bismillah” tapi selanjutnya memberikan ajaran yang jelas-jelas berdasarkan filsafat Hindu dan Budha. Oleh karena itu Vogellaesaeng mengatakan bahwa Islam Wetu Telu adalah agama Majapahit (Hindu dan Budha) yang sudah dipernis dengan ajaran Islam.
Pada awal penyebaran agama Islam di Lombok, para penyebar Islam tidak pernah menyinggung adat, malah sebaliknya menggunakan adat sebagai alat penyebar Islam selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Al-Quran ditulis dengan memakai tinta Cina, begitu pula dengan kitab-kitab agama dari bahasa Arab disusun dalam bahasa Jawa Kuno dalam bentuk tembang seperti :
Pada awal penyebaran Islam, para penyebar tidak mewajibkan secara langsung kepada masyarakat di Gumi Sasak untuk Shalat Wajib tetapi yang Shalat cukup hanya Kyai dan Pemangku. Hal inilah yang terjadi sampai sekarang sebagai sebuah bentuk ajaran Islam Wetu Telu.
A. SEBAB KEMUNCULAN ISLAM WETU TELU
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas secara rinci dapat dijelaskan bahwa sebab-sebab munculnya Islam Wetu Telu sebagai berikut :
Beberapa arti dan makna Wetu Telu dapat dijabarkan sebagai beerikut
Pada prinsipnya bentuk ritual Wetu Telu dapat disederhanakan ke dalam dua bentuk perwujudan yaitu.
Keyakinan komunitas Islam Wetu Telu adalah percaya kepada makhluk halus yang bersemayam pada benda mati atau benda tertentu atau memiliki kekuatan tetapi tunduk di hadapkan kekuatan Tuhan. Menyangkut Roh leluhur, mereka percaya bahwa Adam dan Hawa merupakan asal usul nenek moyang kita.
Untuk penghormatan terhadap leluhur yang terdahulu mereka memperlakukannya secara berlebihan. Mereka beranggapan bahwa kuburannya sebagai makam keramat sedangkan dari kelompok-kelompok yang terakhir mereka kuburkan di pemakaman biasa.
2. Penyelenggaraan Upacara Tertentu
Banyak bentuk ritual yang dihayati dan dijalankan oleh komunitas Islam Wetu Telu, antara lain.
I. Perayaan Hari besar Islam
Perayaan Hari Besar Islam bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Islam dari kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah, akan tetapi Perayaan Hari Besar Islam dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat Islam Wetu Telu. Perayaan-perayaan tersebut dilakukan untuk mengenang kembali dan mengambil nilai-nilai yang positif.
Adapun bentuk-bentuk uopacara Islam Wetu Telu seperti :
II Upacara Peralihan Individu
Upacara Peralihan Individual dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur dan berharap akan menemukan perjalanan hidup yang lebih baik. Perjalanan hidup yang dimaksudkan adalah perjalanan ketika masih hidup di dunia maupun kehidupan di hari kemudian.
Upacara yang terkait dengan seseorang atau individu yang dilaksanakan pada waktu masih hidup disebut gawe urip sedangkan upacara ritual yang dilaksanakan setelah orang tersebut meninggal dunia disebut gawe pati.
I II. Upacara Siklus Tanam
Banyak ritual yang dilakukan pada waktu melangsungkan proses menanam suatu jenis tumbuhan yang disebut adat bonga padi. Upacara ini dilakukan sebagai rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa dan berharap agar segala sesuatu jerih payah pada waktu menanam dapat lebih bermanfaat. Prosesi atau ritual ini merupakan salah satu bentuk aplikasi masyarakat Islam Wektu Telu dalam Pengelolaan sumber daya alam.
Bentuk-bentuk upacara adat seperti itu disebut adat bunga padi. Adat tersebut dilakukan pada waktu-waktu tertentu sesuai dengan musim tanam atau kalender yang telah ditentukan dalam sistem penanggalan. Adapun bentuk-bentuk adat bonga padi antara lain :
Untuk pelaksanaan setiap upacara tersebut khususnya untuk adat bonga padi dilakukan dengan memakai kalender Islam (Tahun Hijriah) tetapi juga mempergunakan pola dan sistem penghitungan kalender Islam Wetu Telu. Kalender tersebut mengenal Siklus 8 tahunan, 12 bulanan, dan 7 hari dalam seminggu, dengan nama tahun-tahun alif, dan seterusnya.
Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
Dahulu kala di daerah Lombok Timur ada seorang raja bernama Raden Panji Anom. Dia memerintah di sebuah kerajaan kecil yang subur makmur. Rakyat hidup tenteram dengan hasil pertanian yang melimpah ruah. Raden Panji Anom memimpin rakyatnya dengan bijaksana dan adil. Ia sangat disayangi oleh semua rakyat.
Raden Panji Anom mempunyai sembilan orang istri. Akan tetapi tidak merasakan kebahagiaan, beliau sangat sedih dan masgul karena selama ia kawin dengan kesembilan orang istrinya tak satu pun yang dapat memberikan ia keturunan. Ia belum mempunyai anak walau seorang pun.
Berbagai usaha telah dilakukan agar ia mempunyai anak. Ia telah mencari dukun sakti, pergi bertapa ke goa-goa, bedoa siang dan malam, dan melakukan pengobatan dengan berbagai cara, namun usahanya tetap belum berhasil. Ia hampir putus asa.
Pada suatu malam ketika sedang merenung sendiri, tiba-tiba datang seorang kakek tua bernama Kakek Betal Jemur dan berkata “ Wahai putraku Raden Panji Anom. Kamu tidak akan pernah mempunyai anak dengan mencari dukun-dukun sakti. Sekarang coba ikuti petunjukku. Pergilah ke pantai Tanjung Menangis, bawalah semua istri dan pengiringmu. Di sana kamu mandi suci, dan selepas itu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Apabila selesai berdoa kamu ajak prajuritmu untuk memancing ikan di sana. Camkanlah petuahku ini, mudah-mudahan Tuhan memberkatimu” Setelah berkata demikian, Kakek Betal Jemur langsung menghilang.
Raden Panji Anom sangat suka cita hatinya. Keesokan harinya, ia pergi ke pantai Tanjung Menangis untuk melaksanakan nasehat Kakek Betal Jemur itu. Di sana mereka mandi suci, membersihkan diri dari kotoran lahir dan batin. Selesai mandi lalu berdoa bersama. Kemudian dilanjutkan dengan memancing ikan di pinggir pantai.
Konon kabarnya di sebelah utara Pulau Lombok ada seorang Raksasa sakti bernama Danawe Kembar yang mendiami Gunung Kembar. Raksasa itu mempunyai putri yang sangat buruk mukanya dan juga memiliki kesaktian yang hebat namanya Danawe Sari.. Pada suatu hari Danawe Kembar berkata kepada Danawe Sari “ Wahai putriku, aku belum puas melihat kesaktianmu. Aku ingin menguji sejauh mana perkembangan kesaktianmu selama ini. Oleh karena itu engkau akan kulemparkan ke laut . Apakah kau siap?” Tanya Danawe Kembar.
“ Hamba siap, apa saja perintah Ramanda” kata Danawe Sari.
Danawe Kembar memerintahkan prajurit raksasanya untuk membuat peti mayat. Di dalam peti itu Danawe Sari dimasukkan lalu dilemparkan ke laut.
Pada saat memancing, tiba-tiba tali kailnya ditarik oleh sesuatu yang sangat berat. Raden Panji Anom memerintahkan prajuritnya untuk menarik tali kail. Apa yang terjadi ? Ternyata bukan ikan yang didapatkan, melainkan sebuah peti yang besar dibuat dari kayu jati dan bergembok. Lebih aneh lagi, ketika peti itu dibuka, ternyata isinya adalah seorang gadis cantik yang sangat manis dan ayu. Kecantikannya bagaikan bulan yang pemurah. Senyumnya mengulum manis dan ada lesung pipit di kedua pipinya. Wajahnya bulat oval dan matanya tajam berseri. Rambutnya hitam ikal mayang dan dikonde sebagian, menambah indah kecantikannya.
Raja Panji Anom terpesona, ia bertanya,” Wahai gadis manis. Dari manakah kamu berasal? Siapakah orang tuamu dan mengapa kamu ada di peti dihanyutkan oleh air laut seperti ini?. Tolong ceritakan wahai putri ayu!”
“ Ampun Tuanku, hamba pun tidak tahu dari mana hamba berasal. Hamba juga tidak tahu siapa orang tua hamba. Hamba adalah musafir yang terbuang dan terlunta-lunta dihanyuatkan air samudra.” Jawab Putri ayu dalam peti berbasa basi.
Raja Panji Anom langsung jatuh cinta dan membawa gadis cantik itu pulang ke istana untuk dinikahi. Kesembilan istrinya setuju saja bermadu dengan gadis cantik itu dan penuh kesabaran karena raja memang ingin punya putra.
Setelah peristiwa itu, beberapa bulan kemudian kesembilan orang istri raja hamil. Tetapi sayang, cinta dan kasih sang sang Raja telah tumpah ruah kepada gadis peti yang sangat cantik itu. Hari demi hari raja mabuk kepayang. Sampai-sampai ia melupakan dan menyia-nyiakan kesembilan istrinya. Tidak pernah diurus sama sekali. Raja benar-benar lupa.
Setelah berhasil menjerat cinta sang Raja, gadis peti itu berterus terang bahwa ia sebenarnya putri dari Danawe Kembar yang ada di Gunung Kembar. Ia juga memberitahukan namanya Danawe Sari. Tetapi Raden Panji Anom tidak mau peduli siapa pun dia. Bahkan cintanya semakin menjadi-jadi seperti air bening yang tak putus mengalir di kali.
Danawe Sari iri hati kepada kesembilan orang istri raja yang sudah hamil, sedangkan ia sendiri tidak bisa hamil. Danawe Sari meminta kepada Raden Panji Anom agar mengasingkan kesembilan istrinya ke sebuah goa yang tidak jauh dari tempat itu. Raja Panji Anom menurut saja. Kesembilan istrinya lalu diasingkan ke sebuah goa dengan bekal sederhana dan lampu penerang seadanya.
Di goa itulah mereka melahirkan anak laki-laki semua. Danawe Sari mendengar berita itu. Suatu malam ia menyusup ke goa dengan bentuk aslinya seorang raksasa perempuan. Ia membunuh semua anak yang baru dilahirkan itu. Dia juga mencongkel semua mata istri raja dengan kukunya sehingga semuanya buta. Bola-bola mata itu dibungkus lalu diantarkan ke Gunung Kembar kepada ayahnya.
Berkat pertolongan Tuhan, ada seorang anak yang tidak terbunuh. Setelah delapan tahun berlalu anak tersebut besar di dalam goa. Tiba-tiba datang Kakek Betal Jemur memberitahukannya bahwa ayahnya adalah seorang raja bernama Raden Panji Anom. Oleh kakek Betal Jemur anak tersebut diberi nama Raden Panji Segara dan diantarkan ke hadapan ayahnya.
Raden Panji Segara pergi ke istana menemui ayahnya. Di sana ia mengakui tentang kelahirannya di dalam gua dan turut dibenarkan oleh Kakek Betal Jemur. Raja Panji Anom sangat gembira. Namun sebaliknya Danawe Sari sakit hati. Walaupun begitu ia berusaha menahan sakitnya dan pura-pura cinta kepada Raden Panji Segara.
Pada suatu hari Danawe Sari ingin mengirim Raden Panji Segara ke Gunung Kembar untuk menuntut ilmu kesaktian pada Danawe Kembar. Raden panji Anom setuju saja atas usul Danawe Sari itu. Danawe Sari lalu menulis surat untuk ayahnya dan dimasukkan ke dalam amplop.
Di tengah jalan Raden Panji Segara dihadang oleh Kakek Betal Jemur dan melihat isi surat itu. Surat itu berbunyi demikian:
“ Ayahanda Danawe Kembar. Ini hamba kirim anak dari madu hamba. Dia satu-satunya musuh ananda yang sangat berbahaya Dia calon pewaris kerajaan ayahnya. Tolong ayah bunuh dia dan sisakan ananda biji matanya .Salam Nanda Danawe Sari.”
Setelah dibaca oleh Kakek Betal Jemur, surat itu dirobek dan diganti isinya menjadi begini :
“ Wahai ayahanda yang maha sakti. Syukurlah ananda telah dikaruniai seorang anak laki yang tampan. Ini dia hamba utus satu-satunya anak hamba yang menjadi calon raja namanya Raden Panji Segara. Sesuai denga pengalaman ananda di tengah segara. Oleh karena itu tolong ajarkan ilmu kesaktian ayah, bila perlu melebihi kesaktianku. Apabila anak ini sudah pandai berikan ia empat pasang bola mata yang ayah simpan dan suruhlah cepat-cepat pulang karena negara membutuhkannya. Ananda akan merasa bangga punya anak sakti. Salam nanda. Danawe Sari”
Setiba di Gunung Kembar, Raden Panji Segara diterima dan diajar olah kanuragan dan berbagai kesaktian. Ia mengalami kemajuan pesat karena ia memang putra raja yang tangkas dan cerdas. Setelah beberapa hari ia telah memiliki kesaktian melebihi Danawe Sari. Raden Panji Segara disuruh pulang ke istana dan diberikan membawa bungkusan ajaib berisi 4 pasang bola mata.
Di istana kerajaan terjadi gempar. Setelah Raden Panji Segara pulang, terbongkarlah kedok rahasia kejahatan Danawe Sari. Danawe Sari bingung mengapa ayahnya tidak membunuh Panji Segara. Ia sangat marah dan sakit hati. Raden Panji Segara menceritakan kejadian yang sebenarnya dari awal sampai ia pulang dari gunung kembar. Danawe Sari membela diri dengan berbagai dalih, tetapi bola mata itulah yang menjadi bukti nyata. Dan di dalam gua sana masih hidup menderita 4 orang permaisuri yang hidup dalam kegelapan tidak bisa melihat.
Raja Panji Anom sangat marah. Untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah , Raden Panji Segara disuruh perang tanding dengan Danawe Sari. Danawe Sari mengeluarkan sumbar, “ Anak ingusan bau kencur, mana bisa menang melawan kesaktianku yang sempurna” ejeknya.
Raden Panji Segara tenang saja. Akhirnya terjadilah pertempuran sengit. Danawe Sari mengubah wujudnya menjadi seorang Raksasa Betina Giginya runcung dan baunya amis menyengat. Raja Panji Anom muntah melihatnya. Raden Panji Segara tidak memberikan kesempatan kepada Danawe Sari untuk membuat ulah di istana. Ia langsung menyerang. Tentu saja terjadi pertempuran seru. Masing-masing mengeluarkan kesaktian. Danawe Sari mengubah diri jadi api, Raden Panji Segara mengubah diri jadi air. Semua kesaktian dikerahkan sampai menjadi binatang buas, menjadi kelelawar dan sebagainya namun semuanya dapat diimbamngi oleh Raden Panji Segara.
Ada satu kesaktian yang belum diajarkan oleh Danawe Kembar kepada Danawe Sari. Dan kesaktian itu telah diajarkan kepada Raden Panji Segara. Yaitu kesaktian meniup seruling buluh perindu. Siapa saja musuh yang ditujukan jika ia mendengar bunyi buluh perindu itu akan langsung teler, sampai lupa diri. Kesempatan itulah digunakan oleh Raden Panji Segar untuk membunuh Danawe Sari.
Akhirnya Danawe Sari dapat dikalahkan. Raja Panji Anom menyadari kesalahannya selama ini, telah mabuk cinta oleh seorang gadis cantik yang ternyata putri raksasa yang jelek dan busuk. Raja Panji Anom pergi menjemput kesembilan istrinya di goa dan di kembalikan biji mata mereka. Raja Panji Anom meminta maaf kepada istri-istrinya. Di sana mereka berpelukan bertangis-tangisan saling memaafkan. Karena semua kejadian yang lalu adalah merupakan suratan takdir Tuhan Yang Maha Esa. Menjadi pelajaran buat kita.
Silsilah ini diawali dengan kisah Datu (Raja) Sempopo yang belum mengenal hukum agama, khususnya dalam hal perkawinan. Karena ketidaktahuannya terhadap hukum tersebut ia mengawini saudaranya sendiri, neneknya, dan lain-lain. Sebagai akibat dari perbuatannya itu ia mendapat kutukan Yang Mahakuasa yakni meluapnya air laut di Pena (daerah yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Praya Timur). Luapan air laut tersebut menenggelamkan daerah Sempopo beserta beberapa daerah lainnya seperti Pejanggik, bahkan terus ke barat yakni di Gunung Tela.
Setelah kejadian tersebut kemudian disusul dengan adanya usaha-usaha dari para penguasa setempat untuk melepaskan diri dari kerajaan. Hal ini mengakibatkan adanya daerah-daerah kekuasaan baru dengan rumpun-rumpun keluarga raja yang baru pula. Sebagai contoh, Raja Kedaro yang dikenal juga dengan nama Panjisari Kedaro pindah ke Tendaun. Ia mempunyai seorang putera bernama Tumenggung Re yang kelak berkuasa di Kentawang. Hal serupa juga dilakukan oleh rumpun-rumpun kedatuan (keluaga raja) yang lain, seperti Harya Lesong anak Demung Batu Dendeng dengan daerah kekuasaannya di Lesong.dan Masrum yang pindah ke Padamara, Den Gunaksa ke Penunjak, Den Jae yang berkuasa di Pujut bersama dengan yang lainnya. Mereka berada dalam serumpun dialek yaitu dialek Bahasa “ Hiku Hiyak ”.
Silsilah ini bertutur pula tentang masuknya Bangsa Jawa yang mengalahkan penduduk pribumi. Beberapa penduduk di antara penduduk pribumi yang kalah ditawan ke Jawa, yakni di Kerajaan Busingcili. Akan tetapi nakhoda Lewin dari tanah Pesisir yang beristri seorang Bangsawan Sasak dari keluarga Batu Dendeng telah berhasil menyelamatkan mereka.
Pada bagian tutur mengenai Kuripan disebutkan tentang adanya seseorang yang sakti bernama Ki Rangga yang telah membuat heboh di Kuripan. Ki Rangga yang sangat sakti ini tidak dapat ditaklukkan meskipun dengan bantuan Pujangga Pejanggik. Namun pada akhirnya Ki Rangga dapat dikalahkan oleh seorang pemuda bernama Hama Kuwi. Ki Rangga masih dapat melarikan diri ke Tabuak. Baru di Tabuak inilah Ki Rangga dapat benar-benar dikalahkan oleh dua orang jagoan dari Batu Dendeng bernama Neq Dipati dan Arya Pati. Sekarang di Tabuak terdapat sebuah Bukit bernama Bukit Tirangga yang kemungkinan besar berasal dari nama Ki Rangga dalam kisah tersebut.
Ringkasan Babad Sakra
Babad Sakra yang ditulis oleh Raden Barak dari Desa Kuripan ini memulai tuturnya tentang situasi politik di desa Sakra. Dikisahkan, sebagai akibat berkuasanya Raden Surya Jaya yang sebenarnya belum dianggap tepat, banyak memberikan andil atas kekalahan dan kehancuran desa Sakra. Dalam kemudaannya di bidang usia, ilmu pengetahuan, dan siasat, serta sikap, Raden Surya Jaya telah menyeret Sakra kepada situasi yang begitu rumit dan akhirnya berakibat fatal. Ia kurang mempedulikan nasehat-nasehat para tetua, baik dari pemuka Agama atau para sesepuh yang telah memiliki banyak pengalaman hidup, ilmu kearifan dan ilmu siasat yang tinggi. Berulang kali kemenangan hampir diraihnya, akan tetapi akibat “tingkah kemudaannya” ia telah jatuh kembali dan mengalami kekalahan.
Pada bagian tengah dari babad ini bertutur mengenai situasi Kerajaan Mataram di Karang Asem Sasak, seperti yang terdapat pula pada babad Praya. Bagian ini bercerita tentang perang saudara antar Kerajaan Mataram dengan Karang Asem Sasak. Di bagian ini diceritakan pula tentang latar belakang kehancuran Kerajaan Karang Asem Sasak (Singasari) yang diperintah oleh seorang raja wanita yang bernama Dewa Cokorda yang bergelar Dewa Agung. Tingkah laku Dewa Agung yang kurang terpuji karena paham kebebasan sex (free sex) yang dianutnya. Ia berpaham bahwa siapa pun bebas melakukan hubungan sex dengan siapa pun. Hal ini telah menjerumuskan Kerajaan Karang Asem Sasak ini ke jurang kehancurannya. Bermula dari perbuatan adiknya, Ayu Putri yang menikah dengan putra Raja Mataram, akan tetapi ia melakukan penyelewengan dengan Gusti Gde. Hal inilah yang kemudian menjadi puncak kemarahan Mataram karena Dewa Agung melindungi perbuatan tercela adiknya dan tidak mengizinkan Ida Ratu Mami Ayu Putri untuk menghukum (membunuh) Gde Dangin. Perang saudara pun tak dapat dielakkan lagi antara Singasari dengan Mataram. Dalam peperangan ini ditonjolkan peranan beberapa orang-orang yang dianggap pahlawan, seperti Gde Bonaha Mumbul, Neneq laki Batu dan Neneq Laki Galiran (dua bersaudara dari Kuripan), Gusti Gde Wanasari,dan anak Agung Ketut Karang. Namun Laki Batu kemudian membuat gara-gara sampai menimbulkan perang dengan Pagutan. Pada saat itu Mataram telah memperoleh kemenangan. Pagutan yang dahulunya pernah membantu Mataram dihancur leburkan oleh Mataram hanya karena masalah Wanita (perkawinan yang gagal).
Melalui tutur yang berliku-liku dan panjang, akhirnya Babad Sakra sampai pada kisah pertempuran besar-besaran (pemberontakan) Sasak terhadap kerajaan Mataram Lombok. Tutur babad Sakra pada bagian yang disebut terakhir ini terdapat pula pada babad Praya dengan ulasan yang meskipun berbeda versinya, akan tetapi pokok isinya sama.