Tampilkan postingan dengan label Cerita Dalam Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dalam Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

Silsilah Batu Dendeng

Silsilah ini diawali dengan kisah Datu (Raja) Sempopo yang belum mengenal hukum agama, khususnya dalam hal perkawinan. Karena ketidaktahuannya terhadap hukum tersebut ia mengawini saudaranya sendiri, neneknya, dan lain-lain. Sebagai akibat dari perbuatannya itu ia mendapat kutukan Yang Mahakuasa yakni meluapnya air laut di Pena (daerah yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Praya Timur). Luapan air laut tersebut menenggelamkan daerah Sempopo beserta beberapa daerah lainnya seperti Pejanggik,  bahkan terus ke barat  yakni di Gunung Tela.


Setelah kejadian tersebut kemudian disusul dengan adanya usaha-usaha dari para penguasa setempat untuk melepaskan diri dari kerajaan. Hal ini mengakibatkan adanya  daerah-daerah kekuasaan baru dengan rumpun-rumpun keluarga raja yang baru pula. Sebagai contoh, Raja Kedaro yang dikenal juga dengan nama Panjisari Kedaro pindah ke Tendaun. Ia mempunyai seorang putera bernama Tumenggung Re yang kelak berkuasa di Kentawang. Hal serupa juga dilakukan oleh rumpun-rumpun kedatuan (keluaga raja) yang lain, seperti Harya Lesong anak Demung Batu Dendeng dengan daerah kekuasaannya  di Lesong.dan Masrum yang pindah ke Padamara, Den Gunaksa ke Penunjak, Den Jae yang berkuasa di Pujut bersama dengan yang lainnya. Mereka berada dalam serumpun dialek  yaitu dialek Bahasa “ Hiku Hiyak ”.


Silsilah ini bertutur  pula tentang masuknya Bangsa Jawa yang mengalahkan penduduk pribumi. Beberapa penduduk di antara penduduk pribumi yang kalah ditawan ke Jawa, yakni di Kerajaan Busingcili. Akan tetapi nakhoda Lewin dari tanah Pesisir yang beristri seorang Bangsawan Sasak dari keluarga Batu Dendeng telah berhasil menyelamatkan mereka.


Pada bagian tutur mengenai Kuripan disebutkan tentang adanya seseorang yang sakti bernama Ki Rangga yang telah membuat heboh di Kuripan.   Ki Rangga yang sangat sakti ini tidak dapat ditaklukkan meskipun dengan bantuan Pujangga Pejanggik. Namun pada akhirnya Ki Rangga dapat dikalahkan oleh seorang pemuda bernama Hama Kuwi. Ki Rangga masih dapat melarikan diri ke Tabuak. Baru di Tabuak inilah Ki Rangga dapat benar-benar dikalahkan oleh dua orang jagoan dari Batu Dendeng bernama Neq Dipati dan Arya Pati. Sekarang di Tabuak terdapat sebuah Bukit bernama Bukit Tirangga yang kemungkinan besar berasal dari nama Ki Rangga dalam kisah tersebut.



Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
read more

Babad Sakra

Ringkasan Babad Sakra


Babad Sakra yang ditulis oleh Raden Barak dari Desa Kuripan ini memulai tuturnya tentang situasi politik di desa Sakra. Dikisahkan, sebagai akibat berkuasanya Raden Surya Jaya yang sebenarnya belum dianggap tepat, banyak memberikan andil atas kekalahan dan kehancuran desa Sakra. Dalam kemudaannya di bidang usia, ilmu pengetahuan, dan siasat, serta sikap, Raden Surya Jaya telah menyeret Sakra kepada situasi yang begitu rumit dan akhirnya berakibat fatal. Ia kurang mempedulikan nasehat-nasehat para tetua, baik dari pemuka Agama atau para sesepuh yang telah memiliki banyak pengalaman hidup, ilmu kearifan dan ilmu siasat yang tinggi. Berulang kali kemenangan hampir diraihnya, akan tetapi akibat “tingkah kemudaannya” ia telah jatuh  kembali dan mengalami kekalahan.


Pada bagian tengah dari babad ini bertutur mengenai situasi Kerajaan Mataram di Karang Asem Sasak,  seperti yang terdapat pula pada babad Praya.  Bagian ini bercerita tentang perang saudara antar Kerajaan Mataram dengan Karang Asem Sasak. Di bagian ini diceritakan pula tentang latar belakang kehancuran Kerajaan Karang Asem Sasak (Singasari) yang diperintah oleh seorang raja  wanita yang bernama Dewa Cokorda yang  bergelar Dewa Agung. Tingkah laku Dewa Agung yang kurang terpuji karena paham kebebasan sex  (free sex)  yang dianutnya. Ia berpaham bahwa siapa pun bebas melakukan hubungan sex dengan siapa pun. Hal ini  telah menjerumuskan Kerajaan Karang Asem Sasak ini ke jurang kehancurannya. Bermula dari perbuatan adiknya, Ayu Putri yang menikah dengan putra Raja Mataram, akan tetapi ia melakukan penyelewengan dengan Gusti Gde. Hal inilah yang kemudian menjadi puncak kemarahan  Mataram karena Dewa Agung melindungi perbuatan tercela adiknya dan tidak mengizinkan Ida Ratu Mami Ayu Putri untuk menghukum (membunuh) Gde Dangin. Perang saudara pun tak dapat dielakkan lagi antara Singasari dengan Mataram. Dalam peperangan ini ditonjolkan peranan beberapa orang-orang yang dianggap pahlawan, seperti  Gde Bonaha Mumbul, Neneq laki Batu dan Neneq Laki Galiran (dua bersaudara dari Kuripan), Gusti Gde Wanasari,dan anak Agung Ketut Karang. Namun Laki Batu kemudian membuat gara-gara sampai menimbulkan perang dengan Pagutan. Pada saat itu Mataram telah memperoleh kemenangan. Pagutan yang dahulunya pernah membantu Mataram dihancur leburkan oleh Mataram hanya karena masalah Wanita (perkawinan yang gagal).


Melalui tutur yang berliku-liku dan panjang, akhirnya Babad Sakra sampai pada kisah pertempuran besar-besaran (pemberontakan) Sasak terhadap kerajaan Mataram Lombok. Tutur babad Sakra pada bagian yang disebut terakhir ini terdapat pula pada babad Praya dengan ulasan yang meskipun berbeda versinya, akan tetapi pokok isinya sama.



Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
read more

Babad Selaparang

Ringkasan Babad Selaparang


Raja Selaparang, Prabu Kertabumi, mempunyai seorang patih bernama Arya Sudarsana. Patih Arya Sudarsana ini bermukim di Prigi dengan Seratus Kaumnya. Arya Sudarsana yang juga Banjar Getas inilah yang dari awal tutur menjadi biang keladi segala kehebohan.


Di Selaparang, Banjar Getas diusir gara-gara kecemburuan raja. Banjar Getas mengantar persenmbahan perkutut putih mulus ke Selaparang. Ketika itu permaisuri prabu Kertabumi melihat Banjar Getas, lalu terjatuh dari tangga dan pinsan. Terjadilah perkelahian, Banjar Getas melarikan diri ke Brenga lalu ke Pena dan kemudian ke Pejanggik Akhirnya ia dapat mengambil hati Datu Pejanggik yang bergelar Meraja Kusuma, Raja Selaparang yang mengetahui bahwa Datu Pejanggik telah memberikan perlindungan kepada Arya Sudarsana, meminta Datu Pejanggik agar menyerahkan Arya Sudarsana ke Selaparang untuk diadili dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Datu Selaprang mengingatkan Datu Pejanggik bahwa Arya Banjar Getas akan mendatangkan bencana, Datu Pejanggik yang seperti kena guna-guna menyayangi Arya Banjar Getas, Berusaha tetap mempertahankan dan menggantinya dengan mempertasembahkan wanita dan kuda kepada Raja Selaparang. Raja Selaparang tersinggung dan menyesalkan sikap saudaranya di Pejanggik.


Dalam naskah ini dikisahkan pula perkawinan antara Datu Pejanggik dengan Putri Para demung yaitu Rangga Tapon di Bayan, Datu Banua dan Datu Kentawang. Selain itu dalam naskah ini diceritakan juga tentang kejadian salah pilih sewaktu meminang Putri Rangga Tapon. Yang terpilih adalah Putri lurah bernama Lala Dewanti, Putri Rangga Tapon, Dewi Junti akhirnya dikawinkan dengan Banjar Getas. Secara diam-diam Rangga Tapon memendam kekecewaan terhadap kejadian ini.


Rupanya ramalan terhadap Banjar Getas oleh Raja Selaparang ternyata benar. Banjar Getas tidak begitu tulus dalam pengabdiannya terhadap Pejanggik. Dewi Junti (istrinya) sempat pula disia-siakannya sehingga menimbulkan amarah sang  Dewi.


Diceritakan bahwa Banjar Getas dalam suatu kunjungan ke Karang Asem Bali bersepakat dengan temannya yang bernama I Gusti Bagus Alit untuk menggempur Pejanggik. Kemudian peperangan berkecamuk. Adanya perang yang lama dan pasang surut jatuhlah Raja Pejanggik. Raja Pejanggik mengungsi ke Taliwang  Sumbawa.


Sebagai sasaran kedua yang akan diserang oleh persekongkolan antara Banjar Getas dengan I Gusti Bagus Alit adalah Kerajaan Selaparang. Dengan berancang-ancang pada pendirian Kerajaan Karang Asem di Sweta dan Mataram kekuatan untuk meruntukan Selaparang disusun dan diatur dengan seksama. Dalam pertempuran antara Selaparang di babad ini dikisahkan kekacaubalauan tentara Bali yang dikalahkan oleh pasukan menjangan yang terdiri atas sembilan ekor. Pasukan kijang ini sebenarnya sembilan orang wanita  sakti yang dikirim dari Bayan untuk membantu Selaparang.


Pasukan Bali tidak mau menyerah begitu saja, akhirnya dituturkan bahwa meskipun rakyat Selaparang telah bertahan mati-matian dalam keadaan jatuh bangun, sering pula mendapatkan keunggulan atas musuhnya. Namun takdir menetapkan bahwa Selaparang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Selaparang akhirnya tunduk kepada kekuasaan Karang Asem, berkat adanya permainan licik dari Banjar Getas dan atas kelicikannya itu telah menciptakan sebuah legenda.


Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.

read more

Cerita Doyan Nede

Menurut penuturan naskah Doyan Neda, di Puncak Gunung Rinjani ada seorang raja jin wanita, cucu Nabi Adam yang bernama Dewi Anjani. Dewi Anjani dipesan oleh kakeknya untuk merajai jin di dunia memimpin sekelompok jin bangsawan dan  manusia. Pesan itu kemudian dilaksanakan di mana terlebih dahulu burung sakti milik Dewi Anjani yang bernama Beberi ( Manuk Beriq ) berhasil meratakan gunung-gunung dengan cakar melelanya untuk dijadikan tanah garapan.


Seorang di antara bangsawan  itu bertindak sebagai Penghulu (pimpinan) bergelar ”Penghulu Alim” . Sang Penghulu mempunyai anak laki-laki yang sejak dihamilkan membawa sifat-sifat ajaib. Anak tersebut berada dalam kandungan selama empat tahun dan pada saat baru dilahirkan dia sudah bisa berjalan, fasih berkata-kata, serta lahab menyantap makanan, karena ia sangat kuat makan maka dalam kisah lain dinamakan Doyan Mangan.


Sang Penghulu Alim  merasa malu punya anak seperti itu sehingga berupaya untuk membunuhnya. Berkali-kali telah menyusun dan melakukan upaya pembunuhan atas anaknya, akan tetapi Dewi Anjani yang telah waspada akan hal itu, senantiasa mengirimkan burung Manuk Beriqnya untuk memercikkan  “Banyu urip”, air kehidupan di tubuh  Doyan Nede yang sudah hancur luluh ditimpa kayu atau pun batu,  sehingga Doyan Nede dapat hidup kembali. Kayu dan batu yang sempat menimpa dibawanya pulang. Menurut riwayat, batu yang dipikul oleh Doyan Nede inilah asal nama kerajaan selaparang. Sela artinya Batu, Parang artinya bergerigi, tidak rata.


Dikisahkan kemudian, dengan restu ibunya yang mengasihi Doyan Neda dengan sepenuh hati, berangkatlah Doyan Nede melakukan pengembaraan berbekal sembilan buah ketupat dan pisau kecil ( memaja ). Dalam pengembaraan ini, ia bertemu dengan seorang petapa yang tubuhnya dililit oleh akar pohon beringin. Orang tersebut bertapa karena ingin menjadi raja Lombok sehingga melakukan pertapaan cukup lama. Sang  petapa lalu diselamatkan oleh Doyan Nede dengan mengeluarkannya dari cengkraman akar beringin. Selanjuttnya diangkat sebagai saudara dan diberi julukan ”Tameng Muter”. Pada pengembaraan berikutnya, mereka menjumpai petapa lain  yang dililit suluran rotan. Petapa itu ditolongnya pula, diangkat sebagai saudara dengan julukan ”Sigar Penyalin”. Akhirnya ketiga pemuda berjanji untuk menjadi saudara dan berjuang bersama-sama. Mereka kemudian melanjutkan pengembaraan, menyusuri hutan belabtara.


Dalam kisah pengembaraan ini mereka berhasil mengalahkan raksasa Limandaru, ada yang menyebutnya raksasa Walmunik. Raksasa tersebut pernah menculik tiga orang putri berasal dari pulau Jawa yaitu putri kerajaan  Maja Pahit,  Madura dan Jawa Tengah. Tiga orang putri itu diamankan di sebuah goa bernama goa Sekaroh. Masing-masing bernama Mas Ari Kencana ( Putri Majapahit), Dewi Ni Ketir ( Putri Madura ), dan Dewi Indra Sasih ( putri Jawa Tengah).


Doyan Nede, Tameng Muter dan Sigar Penyalin berhasil mengalahkan raksasa Walmunik lalu mengawini ketiga putri itu. Doyan Nede kawin dengan Mas Ari Kencana, Tameng Muter dengan Dewi Ni Ketir, dan Sigar Penyalin dengan Dewi Indra Sasih.


Tuturan berikutnya mengisahkan tentang kedatangan nakhoda Jawa yang turun untuk mengambil air minum di pulau Lombok. Nakhoda Jawa ini jatuh cinta kepada ketiga putri yang telah berstatus istri. Maka terjadilah  pertempuran, Doyan Nede beserta saudaranya berhasil mengalahkan nakhoda dan anak buahnya. .Seluruh isi kapal milik nakhoda diserahkan kepada Doyan Nede begitu pula anak buahnya untuk dijadikan abdi.


Setelah nakhoda itu mengetahui bahwa putri itu adalah yang sebenarnya putri Majapahit, putri Madura dan Jawa Tengah, maka mereka tunduk mengabdi. Doyan Nede membangun Jero Baru, kemudian diserahkan kepada Tameng Muter. Sedangkan Doyan Nede mencari ayahnya Pengulu Alim di Seleparang, dan di sana ia mendirikan kerajaan Selaparang. Sedangkan Sigar Penyalin diutus untuk membangun kerajaan di daerah utara yaitu di Sembahulun,( Sembalun).


Kisah selanjutnya, Raden Sigar Penyalin melanjutkan pengembangan wilayah samapai ke Pulau Menang ( Bayan ). Di sana ia mendirikan kerajaan Bayan, yang akhirnya kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang pernah hilang di Bilok Petung.


Mengenai kerajaan Pejanggik, dikisahkan bahwa putra Doyan Nede dari perkawinannya dengan Mas Ari Kencana mendirikan kerajaan Pejanggik. Pada awal kisahnya, Dewi Mas Ari Kencana mengidamkan putranya dan saat mengidam ia sangat ingin makan mangga yang bernama Poh Jenggik. Setelah berhasil didapatkan, maka biji Poh Jenggik itu ditanam di sebelah timur Peraya dan inilah cikal bakal kerajaan Pejanggik, Di kemudian hari raja Pejanggik bergelar Dewa Mas Meraja Kusuma.


Mengenai Tameng Muter yang memimpin kerajaan Jero Baru, mempunyai putra yang sangat cerdas dan tampan. Putranya ini kemudian mendirikan kerajaan Langko dengan gelar Pangeran Langkasari. Banyak kalangan yang  sependapat dengan babad ini bahwa inilah cikal bakal berkembangnya kerajaan-kerajaan di pulau Lombok, yaitu generasi penerus pulau ini merupakan keturunan dari orang-orang sakti pada zaman dahulu.


Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.

read more

Cerita Cupak Gerantang

Lontar Cupak Gerantang yang ditulis dalam bentuk sekaran dengan pengantar bahasa Sasak ini membuka tuturannya dengan menceritakan penculikan terhadap putri Daha oleh raksasa Limandaru.L imandaru yang berarti raksasa bermuka gajah dengan sorotan mata bagai api adalah raksasa yang sangat sakti dan sudah lama mengidam-idamkan putri  Daha untuk dijadikan anaknya.  Hasrat Si Limandaru pun terwujud.   Putri Daha yang berhasil diculuknya disembunyikan di dalam goa.


Prajurit Daha kemudian dikerahkan untuk merebut kembali putri yang diculik itu. Prajurit kerajaan di bawah pimpinan Raden Panji (kekasih sang putri) juga ikut dikerahkan, akan tetapi  semuanya menemui kegagalan. Sang Putri tetap ditangan Limandaru.  Bahkan Raden Panji sendiri nyaris menemui ajalnya. Rasa malu dan kecewa karena kegagalan ini membuat Raden Panji memutuskan untuk pergi berkelana mencari kesaktian.


Tersebutlah seorang abdi kerajaan Daha yang lolos dari cengkraman maut bernama si Bosok. Ia bersedia mengikuti pengembaraan Raden Panji, asalkan diakui sebagai saudaranya. Kedua insan itu pun pergi bertafa ke gua Galagala. Berkat  kekuasaan Tuhan, keduanya menjelma kembali menjadi anak kecil. Si Bosok yang dimandikan di Pekuburan Keramat diberi nama Raden Cupak. Rupa wajah Raden Cupak sangat serem dengan kepala botak dan perut gendut. Sedangkan Raden Panji yang disucikan di sebuah mata air diberi nama Raden Gurantang yang wujud fisiknya sangat baik, ampan, serta dengan perangai halus dan budi pekerti luhur.


Selanjutnya diceritakan Cupak dan Gurantang melakukan pengembaraan. Pada suatu saat mereka bertemu dengan Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol.  Mereka mengangkat Raden Cupoak dan Raden Gurantang sebagai anak.


Pada lanjutan kisah, Selama menjadi anak angkat Inaq Bangkol, terlihat perbedaan perangai kedua tokoh ini. Raden Cupak yang bertampang buruk mewakili sifat-sifat yang buruk. Hatinya busuk, tidak jujur, pemalas, serakah, dan perbuatan culas lainnya. Sedangkan Gurantang dengan tampang yang bagus mewakili sifat-sifat yang bagus pula seperti jujur, tulus ikhlas, rela berkorban, rajin, rendah hati,dan sejenisnya. Meskipun ia memiliki kesaktian yang tinggi, tetapi tidak sombong.


Cerita dilanjutkan  dengan pengembaran Cupak dan Gurantang. Setelah Raden Cupoak bertingkah laku tidak baik, terhadap Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol, Raden Gurantang merasa malu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan Mengembara tanpa tujuan keluar hutan masuk hutan.


 Pada bagian tengah cerita mengisahkan tentang adanya sayembara dalam rangka merebut kembali putrid Daha dari tangan raksasa Llimandaru. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Raden Gurantang alias Raden Panji. Ia memang sudah lama  bertekad merebut kembali kekasihnya dari tangan Limandaru. Tetapi  rupanya kehadiran Cupak sebagai saudara Gurantang bukan membantu, bahkan merupakan duri dalam daging. Ketika usaha Gurantang menyelamatkan Tuan Putri hamper berhasil, Cupak yang ternyata menaruh hati kepada Tuan Putri tak segan mencelakakan Gurantang dengan jalan menjatuhkannya kedalam dasar Gua. Daalam situasi seperti ini, peran Amaq dan Inaq Bangkol kembali dihadirkan untuk menyelamatkan sang Panji (Raden Gurantang). Pada akhir cerita dituturkan bahwa kebenaran dan kejujuranlah yang akhirnya memperoleh kemenangan walau terlebih dahulu mesti diuji dengan kekalahan, kesengsaraan, dan penderitaan. Di ujung cerita dikisahkan Cupak mengadu kepada Raja bahwa dialah yang membunuh raksasa itu. Untuk menguji kebenaran ceritanya, Cupak disuruh beradu perise melawan Gurantang. Akhirnya Cupak dapat dikalahkan dan Tuan Putri dikawinkan dengan Gurantang ( Raden Panji).



Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.

read more

Kamis, 31 Januari 2013

Babad Praya Lombok











 1.     Ringkasan Babad Praya (Mengawi).


Babad Praya sebagaimana halnya babad-babad yang lain seperti babad Lombok, Babad Selaparang (Babad Sakra) merupakan nukilan sejarah yaitu sejarah Praya sewaktu melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Anak Agung. Pemberontakan pertanian di Praya terjadi sebagai akibat dari adanya pajak yang memberatkan rakyat Praya.


Pemberontakan Praya terjadi pada tahun 1891 di bawah pimpinan Lalu Semail atau yang lazim disebut dengan Guru Bangkol yang dibantu oleh pemuka lainnya yaitu H.Dolah, H.Yasin, Mamiq Sepian, Mamiq Diraja, Mamiq Srinata, Ocet Talib dan lain-lain. Dalam babad ini juga diceritakan adanya seorang yang menyatakan dirinya berkebangsaan Arab bernama Tuan Serip. Ia adalah pengacau dan pengadu domba kedua belah pihak yang berperang. Karena siasat adu domba itulah maka ia berhasil mempengaruhi beberapa daerah lainnya, seperti Sakra, Masbagik,  Jerowaru, Pujut, Puyung, Kopang, Batukliang, Penujak, Jonggat, Sukarara dan Kediri untuk mengadakan pemberontakan bersama-sama dengan Praya.


Demikianlah maka perang tak dapat dielakkan lagi. Kedua belah pihak masing-masing mempersiapkan diri. Pihak Anak Agung dipimpin oleh Ratu Made dibantu oleh Ratu Nengah Gengsok, Anak Agung Made Jelantik, Bagus Nyoman Gel-gel, Ida Conding dan lain-lain keluar dari Cakranegara menuju ke timur untuk menyerbu Praya. Demikian pula Praya yang semula telah sepakat menggabungkan kekuatan dengan Puyung mulai bergerak ke arah barat menuju Cakra untuk mengadakan penyerbuan. Akan tetapi  Puyung tak dapat memenuhi janjinya dan tak dapat dilewati oleh pasukan Praya karena dijaga ketat oleh para  prajurit yang setia di bawah pemerintahan Anak Agung. Pada waktu penyerngan pertama Lalu Semail alias Guru Bangkol tidak bisa seterusnya memimpin pasukan, karena mendadak sakit perut di tengah jalan. Ia terpaksa kembali ke Praya karena sakit.Kedua pasukan itu akhirnya bertemu di Batukeliang di tempat pertemuan pertama terjadi.


Pertemuan demi pertemuan terus berlangsug sampai akhirnya pasukan Anak Agung dapat memasuki Praya. Inilah yang menyebabkan sebagian warga kota Praya harus mengungsi. Sisa-sisa warga kota dan para pemimpin mereka itulah yang terus mengadakan perlawanan dengan siasat perang bertahan di tempat. Masjid dijadikan tempat pertahanan mereka dengan mempergunakan senjata seadanaya berupa keris-keris, tombak, pedang dan lain-lain. Sedangkan persenjataan Anak Agung cukup modern karena sebagian besar memakai bedil. Karena merasa kawatir terdesak oleh musuh, maka pada suatu saat, mereka membuat semacam taktik yaitu dengan mengikatkan tombak pada orang-orangan yang terbuat dari bumbug. Kalau talinya ditarik, maka semua orang-orangan itu akan bergerak seperti orang yang hendak menombak. Diceritakan bahwa siasat ini cukup berhasil karena musuh tidak berani maju mengadakan perlawanan.


Penyerbuan Anak Agung tidak berhenti sampai di sini,  mereka terus menerus berusaha menduduki Praya dengan berbagai cara seperti membakar rumah-rumah penduduk desa  dan masjid yang dijadikan tempat pertahanan. Pada saat itu hampir semua daerah Praya dapat diduduki oleh Anak Agung. Daerah sekitarnya sampai sebelah barat Leneng dan dari segala penjuru telah dibentengi Anak Agung. Akan tetapi  dengan sisa kekuatan dan kemampuan yang ada, Praya terus bertahan sampai akhirnya berhasil mengusir Anak Agung dari Leneng.


Hal ini  merupakan awal kemenangan Praya. Kekalahan pasukannya membuat Anak Agung Made Karangasem bersama Anak Agung Ketut Karangasem kembali menyusun strategi baru. Usahanya ini juga gagal karena daerah-daerah di luar Praya seperti Jrowaru, Sakra, Apitaik, Pringgabaya, Pohgading,dan daerah pesisir lainnya yang sebelumnya setia kepada Anak Agung kini dibawah pimpinan H. Ali dan Mamiq Wirasentana berbalik melawan Anak Agung. Demikian pula halnya dengan Puyung yang dijadikan markas pertahanan Mataram, akhirnya dapat dikuasai oleh Praya setelah Pujut, Kawo,  Penujak, Batujai, Mujur,dan Marong ikut menggabungkan diri. Dengan demikian berakhir pulalah upaya pendudukan Anak Agung terhadap Praya dan daerah-daerah lainnya.


2.     Ringkasan Babad Praya


Lontar babad Praya ditulis oleh penulis Sasak yang yang berasal dari desa Batujai. Lontar ini menceritakan sebab-sebab terjadinya pemberontakan pemuka masyarakat terhadap kekuasaan Anak Agung Gde Ngurah Karangasem yang berkuasa pada saat itu.


Sistem  penulisan lontar ini dalam bentuk sekaran (tembang) berbahasa Sasak. Ceritanya berawal dari latar belakang pemberontakan Praya. Diceritakan,pemberontakan terjadi karena adanya hasutan dari kalangan istana dan seorang yang berkebangsaan Arab bernama Tuan Sayid Abdullah yang menetap di Ampenan. Hal ini terjadi  sebagaia akibat adanya tekanan dan keharusan membayar upeti (pajak) serta adanya suatu paham yang keliru tentang dihalalkannya mencuri harta orang non muslim (Bali). Yang disebut terakhir merupakan penyebab khusus (Triger-penyelut) mulainya peperangan. Fitnah dan informasi yang keliru atau tidak sesuai dengan kenyataan telah memperuncing suasana di antar kedua belah puhak.


Dalam keadaan seperti itu, keputusan-keputusan yang diambil tanpa melalui perhitungan atau pemikiran panjang. Pihak yang satu mengunggulkan keberaniannya dan pihak yang lain membanggakan kekuatannya. Berbagai kelemahan pada masing-masing pihak dilukiskan dalam babad Praya ini misalnya, ketergesaan yang membawa kesulitan pada pihak Praya dan kesalahan strategi Anak Agung Made sebagai panglima perang kerajaan Mataram. Anak Agung mempergunakan pasukan Islam (Sasak) Praya. Dalam babad ini diceritakan pula akibat dari perang yang terjadi, berupa korban jiwa dan harta benda. Perang ini berakhir dengan kehancuran kerajaan Karang Asem Lombok dan masuknya Kolonialisme Belanda di Lombok.


Siapakah yang menang di antara mereka dalam perang saudara ini? Itulah pertanyaan yang muncul setelah membaca babad ini.Seperti bunyi ungkapan serat menak.


Yaktining para ratu kang ajurit


Kasoran tan kasoran


Unggul woten unggul


Mung sampeyan katiwasan


Para ratu lahire ungguling jurit


Nanging paduka tiwas


Artinya :


Sesungguhnya para pemimpin yang berperang


Kalah tiada kalah


Hanyalah Tuan terpedaya


Para pemimpin lahirnya menang perang


Tapi tuan-tuan terpedaya


Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.
read more

Babad Lombok

Babad Lombok berpengantar bahasa Jawa Kuno (Kawi) setelah pemaparan mukaddimah (exordium) barulah mulai bertutur mengenai Nabi Adam dan Hawa.


Sepeninggal Nabi Adam, para iblis melakukan propaganda besar-besaran untuk menyesatkan umat manusia. Iblis-iblis ini mengatakan kepada umat manusia bahwa mereka sudah bertemu dengan Nabi dan mendapat pesan dari Nabi Adam untuk manusia. Isi pesan tersebut ialah barang siapa yang hendak bertemu dengan Nabi Adam hendaklah ia mendirikan sanggah, sanggar serta sesaji. Babi, anjing, tuak dan berem dihalalkan semua. Ajaran ini kemudian disebut wratsari, dibawa oleh pendeta gurundeh dari Buda Klin. Maka banyaklah umat manusia yang terseret ke dalam ajaran iblis.


Pada masa berikutnya, Nabi Nuh Alaihissalam menyebarkan ajarannya.Ada sebagian umat manusia dari negeri Talpaman yang ingkar. Manakala hukuman Tuhan turun, berupa serangan Raja Amir Hamzah yang berasal dari Negeri Mekkah,maka kaum Talpaman melarikan diri dari negerinya dan sampailah mereka di pulau Lombok. Di pulau Lombok mereka menyerang sebuah desa yang bernama desa Laek. Penduduk desa ini kemudian melarikan diri dan mendirikan sebuah desa baru yang diberi nama desa Pamotan.


Babat Lombok juga  menuturkan pula bagaimana rakyat Pamotan memilih dan menobatkan rajanya. Mereka memilih seorang di antara mereka yang berbudi baik,berwibawa dan berpikiran cerdas untuk dijadikan rajanya. Setelah salah seorang terpilih  dibuatkanlah rumah, diberi pakaian yang baik, kuda dan senjata untuk sang raja.


Meletusnya gunung Rinjani selama tujuh hari tujuh malam mengakibatkan kehancuran besar. Puluhan ribu manusia meninggal dan sisanya yang selamat mengungsi ke puncak-puncak bukit. Setelah keadaan aman kembali, penduduk yang terkena musibah kemudian mendirikan sebuah desa baru yang diberi nama Jero Baru (Jerowaru).


Selanjutnya kedatangan orang Jawa dari kerajaan Maja Pahit, kemudian menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Lombok dan Bayan. Konon putra raja Maja Pahit yang sulung menjadi Raja Lombok dan adiknya menjadi Raja di Bayan.


Bagian selanjutnya dari babad ini menuturkan kisah asmaara yang berujung tragis antara Lala Seruni dengan Sandubaya.raja Lombok bernama Kerta Jaya, yang tergila-gila pada Lala  Seruni. Kerta Jaya  telah melaksanakan tipu daya dan menyuruh membunuh suami Lala Saruni (Sandubaya) di hutan perburuan Gebong. Namun akhirnya sang pembunuh pun menemui ajalnya karena membanting diri ke batu ketika Lala Seruni dibawa oleh Cukli Ajaib ke tengah Samudra untuk menyatu dengan roh suaminya.


Perang pun terjadi antara prabu Lombok dengan Demung Brangbatun (kakak Sandubaya). Peperangan berlangsung cukup lama, baru berakhir di masa Prabu Rangkasari, pengganti Prabu Lombok Kerta Jaya.


Yang menarik dari cerita ini adalah pelaksanaan perang yang dilakukan secara aneh, yaitu dengan bersenjatakan binatang laut (pasukan kerajaan Lombok) melawan pasukan kerajaan Brangbantun yang bersenjatakan jajan dan bahan makanan lainnya. Bentuk perang seperti ini diusulkan oleh Prabu Rangkasari karena ingin menghindari korban manusia dan harta benda.


Bagian selanjutnya dari babad Lombok menceritakan perjalanan muballigh Islam di bawah pimpinan Sunan Giri Prapen untuk menyebarkan Agama Islam di Gugusan Sunda kecil. Bersama beliau adalah Patih Madura, Jayeng Lengkara, Tumenggung Semarang, Tumenggung Surabaya, Patih Mataram,dan Patih Tuban. Pada saat itu Agama orang Sasak adalah  agama Wratsari (suatu bentuk agama asli Sasak pada waktu lampau). Pada masa masuknya Islam ini pusat kerajaan dipindahkan ke bagian tengah daratan yaitu ke Selaparang.


Babad Lombok ini kemudian bertutur mengenai kehidupan kerajaan Pejanggik dengan rajanya Wirocandra. Dikisahkan ada seorang Patih Muda yang bergelar Banjar Getas telah membuat begitu banyak ulah sehingga kerajaan Pejanggik Jatuh ke tangan kekuasaan Bali. Berikutnya,kekuasaan Selaparang juga terpaksa harus menyerah kepada raja Karang Asem Lombok, meskipun raja dan rakyatnya telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya demi Bangsa dan Negaranya.Tuturan mengenai polah tingkah Banjar Getas inilah yang memenuhi alur cerita bagian akhir dari babad Lombok ini.


Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.

read more

DONGENG BALANG KESIMBAR

Pada zaman dahulu di Pulau lombok  tinggal seorang kakek tua bersama seorang  cucunya yang bernama Balang Kesimbar. Kehidupan mereka sangat memprihatinkan. Mereka hidup sebagai petani penggarap atau buruh tani yang hanya memperoleh upah dari menggarap sawah. Balang Kesimbar tinggal bersama kakeknya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia akibat wabah penyakit yang ganas menyerang desa tempat tinggalnya.  Ketika itu Balang Kesimbar masih sangat kecil. Ia diasuh dan dibesarkan oleh kakeknya. Dengan penuh kesabaran sang Kakek mengasuh dan mendidik Balang Kesimbar. Meskipun kehidupan mereka serba kekurangan, akan tetapi  kakeknya tidak pernah mengeluh  dan putus asa. Balang Kesimbar mendapat pendidikan yang cukup berupa pendidikan akhlak dan budi pekerti. Ia diasuh dan diajar tata cara bergaul dan kesopanan serta agar selalu tabah dan sabar menghadapi ujian hidup. Di samping dididik oleh kakeknya sendiri, dia juga diserahkan belajar ilmu agama kepada seorang guru di kampungnya.  Berkat pendidikan itu, ia dapat hidup dan bergaul di tengah masyarakat dengan budi pekerti yang baik.  Balang Kesimbar tergolong anak yang rajin, tekun dan penyabar. Mengingat kakeknya yang sudah lanjut uloqa, ia berusaha membantu kakeknya dalam menyiapkan segala keperluan hidup yang apa adanya.

read more