Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita rakyat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

Silsilah Batu Dendeng

Silsilah ini diawali dengan kisah Datu (Raja) Sempopo yang belum mengenal hukum agama, khususnya dalam hal perkawinan. Karena ketidaktahuannya terhadap hukum tersebut ia mengawini saudaranya sendiri, neneknya, dan lain-lain. Sebagai akibat dari perbuatannya itu ia mendapat kutukan Yang Mahakuasa yakni meluapnya air laut di Pena (daerah yang sekarang menjadi wilayah kecamatan Praya Timur). Luapan air laut tersebut menenggelamkan daerah Sempopo beserta beberapa daerah lainnya seperti Pejanggik,  bahkan terus ke barat  yakni di Gunung Tela.


Setelah kejadian tersebut kemudian disusul dengan adanya usaha-usaha dari para penguasa setempat untuk melepaskan diri dari kerajaan. Hal ini mengakibatkan adanya  daerah-daerah kekuasaan baru dengan rumpun-rumpun keluarga raja yang baru pula. Sebagai contoh, Raja Kedaro yang dikenal juga dengan nama Panjisari Kedaro pindah ke Tendaun. Ia mempunyai seorang putera bernama Tumenggung Re yang kelak berkuasa di Kentawang. Hal serupa juga dilakukan oleh rumpun-rumpun kedatuan (keluaga raja) yang lain, seperti Harya Lesong anak Demung Batu Dendeng dengan daerah kekuasaannya  di Lesong.dan Masrum yang pindah ke Padamara, Den Gunaksa ke Penunjak, Den Jae yang berkuasa di Pujut bersama dengan yang lainnya. Mereka berada dalam serumpun dialek  yaitu dialek Bahasa “ Hiku Hiyak ”.


Silsilah ini bertutur  pula tentang masuknya Bangsa Jawa yang mengalahkan penduduk pribumi. Beberapa penduduk di antara penduduk pribumi yang kalah ditawan ke Jawa, yakni di Kerajaan Busingcili. Akan tetapi nakhoda Lewin dari tanah Pesisir yang beristri seorang Bangsawan Sasak dari keluarga Batu Dendeng telah berhasil menyelamatkan mereka.


Pada bagian tutur mengenai Kuripan disebutkan tentang adanya seseorang yang sakti bernama Ki Rangga yang telah membuat heboh di Kuripan.   Ki Rangga yang sangat sakti ini tidak dapat ditaklukkan meskipun dengan bantuan Pujangga Pejanggik. Namun pada akhirnya Ki Rangga dapat dikalahkan oleh seorang pemuda bernama Hama Kuwi. Ki Rangga masih dapat melarikan diri ke Tabuak. Baru di Tabuak inilah Ki Rangga dapat benar-benar dikalahkan oleh dua orang jagoan dari Batu Dendeng bernama Neq Dipati dan Arya Pati. Sekarang di Tabuak terdapat sebuah Bukit bernama Bukit Tirangga yang kemungkinan besar berasal dari nama Ki Rangga dalam kisah tersebut.



Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas VI oleh H. Sudirman dkk.
read more

Cerita Doyan Nede

Menurut penuturan naskah Doyan Neda, di Puncak Gunung Rinjani ada seorang raja jin wanita, cucu Nabi Adam yang bernama Dewi Anjani. Dewi Anjani dipesan oleh kakeknya untuk merajai jin di dunia memimpin sekelompok jin bangsawan dan  manusia. Pesan itu kemudian dilaksanakan di mana terlebih dahulu burung sakti milik Dewi Anjani yang bernama Beberi ( Manuk Beriq ) berhasil meratakan gunung-gunung dengan cakar melelanya untuk dijadikan tanah garapan.


Seorang di antara bangsawan  itu bertindak sebagai Penghulu (pimpinan) bergelar ”Penghulu Alim” . Sang Penghulu mempunyai anak laki-laki yang sejak dihamilkan membawa sifat-sifat ajaib. Anak tersebut berada dalam kandungan selama empat tahun dan pada saat baru dilahirkan dia sudah bisa berjalan, fasih berkata-kata, serta lahab menyantap makanan, karena ia sangat kuat makan maka dalam kisah lain dinamakan Doyan Mangan.


Sang Penghulu Alim  merasa malu punya anak seperti itu sehingga berupaya untuk membunuhnya. Berkali-kali telah menyusun dan melakukan upaya pembunuhan atas anaknya, akan tetapi Dewi Anjani yang telah waspada akan hal itu, senantiasa mengirimkan burung Manuk Beriqnya untuk memercikkan  “Banyu urip”, air kehidupan di tubuh  Doyan Nede yang sudah hancur luluh ditimpa kayu atau pun batu,  sehingga Doyan Nede dapat hidup kembali. Kayu dan batu yang sempat menimpa dibawanya pulang. Menurut riwayat, batu yang dipikul oleh Doyan Nede inilah asal nama kerajaan selaparang. Sela artinya Batu, Parang artinya bergerigi, tidak rata.


Dikisahkan kemudian, dengan restu ibunya yang mengasihi Doyan Neda dengan sepenuh hati, berangkatlah Doyan Nede melakukan pengembaraan berbekal sembilan buah ketupat dan pisau kecil ( memaja ). Dalam pengembaraan ini, ia bertemu dengan seorang petapa yang tubuhnya dililit oleh akar pohon beringin. Orang tersebut bertapa karena ingin menjadi raja Lombok sehingga melakukan pertapaan cukup lama. Sang  petapa lalu diselamatkan oleh Doyan Nede dengan mengeluarkannya dari cengkraman akar beringin. Selanjuttnya diangkat sebagai saudara dan diberi julukan ”Tameng Muter”. Pada pengembaraan berikutnya, mereka menjumpai petapa lain  yang dililit suluran rotan. Petapa itu ditolongnya pula, diangkat sebagai saudara dengan julukan ”Sigar Penyalin”. Akhirnya ketiga pemuda berjanji untuk menjadi saudara dan berjuang bersama-sama. Mereka kemudian melanjutkan pengembaraan, menyusuri hutan belabtara.


Dalam kisah pengembaraan ini mereka berhasil mengalahkan raksasa Limandaru, ada yang menyebutnya raksasa Walmunik. Raksasa tersebut pernah menculik tiga orang putri berasal dari pulau Jawa yaitu putri kerajaan  Maja Pahit,  Madura dan Jawa Tengah. Tiga orang putri itu diamankan di sebuah goa bernama goa Sekaroh. Masing-masing bernama Mas Ari Kencana ( Putri Majapahit), Dewi Ni Ketir ( Putri Madura ), dan Dewi Indra Sasih ( putri Jawa Tengah).


Doyan Nede, Tameng Muter dan Sigar Penyalin berhasil mengalahkan raksasa Walmunik lalu mengawini ketiga putri itu. Doyan Nede kawin dengan Mas Ari Kencana, Tameng Muter dengan Dewi Ni Ketir, dan Sigar Penyalin dengan Dewi Indra Sasih.


Tuturan berikutnya mengisahkan tentang kedatangan nakhoda Jawa yang turun untuk mengambil air minum di pulau Lombok. Nakhoda Jawa ini jatuh cinta kepada ketiga putri yang telah berstatus istri. Maka terjadilah  pertempuran, Doyan Nede beserta saudaranya berhasil mengalahkan nakhoda dan anak buahnya. .Seluruh isi kapal milik nakhoda diserahkan kepada Doyan Nede begitu pula anak buahnya untuk dijadikan abdi.


Setelah nakhoda itu mengetahui bahwa putri itu adalah yang sebenarnya putri Majapahit, putri Madura dan Jawa Tengah, maka mereka tunduk mengabdi. Doyan Nede membangun Jero Baru, kemudian diserahkan kepada Tameng Muter. Sedangkan Doyan Nede mencari ayahnya Pengulu Alim di Seleparang, dan di sana ia mendirikan kerajaan Selaparang. Sedangkan Sigar Penyalin diutus untuk membangun kerajaan di daerah utara yaitu di Sembahulun,( Sembalun).


Kisah selanjutnya, Raden Sigar Penyalin melanjutkan pengembangan wilayah samapai ke Pulau Menang ( Bayan ). Di sana ia mendirikan kerajaan Bayan, yang akhirnya kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang pernah hilang di Bilok Petung.


Mengenai kerajaan Pejanggik, dikisahkan bahwa putra Doyan Nede dari perkawinannya dengan Mas Ari Kencana mendirikan kerajaan Pejanggik. Pada awal kisahnya, Dewi Mas Ari Kencana mengidamkan putranya dan saat mengidam ia sangat ingin makan mangga yang bernama Poh Jenggik. Setelah berhasil didapatkan, maka biji Poh Jenggik itu ditanam di sebelah timur Peraya dan inilah cikal bakal kerajaan Pejanggik, Di kemudian hari raja Pejanggik bergelar Dewa Mas Meraja Kusuma.


Mengenai Tameng Muter yang memimpin kerajaan Jero Baru, mempunyai putra yang sangat cerdas dan tampan. Putranya ini kemudian mendirikan kerajaan Langko dengan gelar Pangeran Langkasari. Banyak kalangan yang  sependapat dengan babad ini bahwa inilah cikal bakal berkembangnya kerajaan-kerajaan di pulau Lombok, yaitu generasi penerus pulau ini merupakan keturunan dari orang-orang sakti pada zaman dahulu.


Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.

read more