Tampilkan postingan dengan label dongeng lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng lombok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

Cerita Doyan Nede

Menurut penuturan naskah Doyan Neda, di Puncak Gunung Rinjani ada seorang raja jin wanita, cucu Nabi Adam yang bernama Dewi Anjani. Dewi Anjani dipesan oleh kakeknya untuk merajai jin di dunia memimpin sekelompok jin bangsawan dan  manusia. Pesan itu kemudian dilaksanakan di mana terlebih dahulu burung sakti milik Dewi Anjani yang bernama Beberi ( Manuk Beriq ) berhasil meratakan gunung-gunung dengan cakar melelanya untuk dijadikan tanah garapan.


Seorang di antara bangsawan  itu bertindak sebagai Penghulu (pimpinan) bergelar ”Penghulu Alim” . Sang Penghulu mempunyai anak laki-laki yang sejak dihamilkan membawa sifat-sifat ajaib. Anak tersebut berada dalam kandungan selama empat tahun dan pada saat baru dilahirkan dia sudah bisa berjalan, fasih berkata-kata, serta lahab menyantap makanan, karena ia sangat kuat makan maka dalam kisah lain dinamakan Doyan Mangan.


Sang Penghulu Alim  merasa malu punya anak seperti itu sehingga berupaya untuk membunuhnya. Berkali-kali telah menyusun dan melakukan upaya pembunuhan atas anaknya, akan tetapi Dewi Anjani yang telah waspada akan hal itu, senantiasa mengirimkan burung Manuk Beriqnya untuk memercikkan  “Banyu urip”, air kehidupan di tubuh  Doyan Nede yang sudah hancur luluh ditimpa kayu atau pun batu,  sehingga Doyan Nede dapat hidup kembali. Kayu dan batu yang sempat menimpa dibawanya pulang. Menurut riwayat, batu yang dipikul oleh Doyan Nede inilah asal nama kerajaan selaparang. Sela artinya Batu, Parang artinya bergerigi, tidak rata.


Dikisahkan kemudian, dengan restu ibunya yang mengasihi Doyan Neda dengan sepenuh hati, berangkatlah Doyan Nede melakukan pengembaraan berbekal sembilan buah ketupat dan pisau kecil ( memaja ). Dalam pengembaraan ini, ia bertemu dengan seorang petapa yang tubuhnya dililit oleh akar pohon beringin. Orang tersebut bertapa karena ingin menjadi raja Lombok sehingga melakukan pertapaan cukup lama. Sang  petapa lalu diselamatkan oleh Doyan Nede dengan mengeluarkannya dari cengkraman akar beringin. Selanjuttnya diangkat sebagai saudara dan diberi julukan ”Tameng Muter”. Pada pengembaraan berikutnya, mereka menjumpai petapa lain  yang dililit suluran rotan. Petapa itu ditolongnya pula, diangkat sebagai saudara dengan julukan ”Sigar Penyalin”. Akhirnya ketiga pemuda berjanji untuk menjadi saudara dan berjuang bersama-sama. Mereka kemudian melanjutkan pengembaraan, menyusuri hutan belabtara.


Dalam kisah pengembaraan ini mereka berhasil mengalahkan raksasa Limandaru, ada yang menyebutnya raksasa Walmunik. Raksasa tersebut pernah menculik tiga orang putri berasal dari pulau Jawa yaitu putri kerajaan  Maja Pahit,  Madura dan Jawa Tengah. Tiga orang putri itu diamankan di sebuah goa bernama goa Sekaroh. Masing-masing bernama Mas Ari Kencana ( Putri Majapahit), Dewi Ni Ketir ( Putri Madura ), dan Dewi Indra Sasih ( putri Jawa Tengah).


Doyan Nede, Tameng Muter dan Sigar Penyalin berhasil mengalahkan raksasa Walmunik lalu mengawini ketiga putri itu. Doyan Nede kawin dengan Mas Ari Kencana, Tameng Muter dengan Dewi Ni Ketir, dan Sigar Penyalin dengan Dewi Indra Sasih.


Tuturan berikutnya mengisahkan tentang kedatangan nakhoda Jawa yang turun untuk mengambil air minum di pulau Lombok. Nakhoda Jawa ini jatuh cinta kepada ketiga putri yang telah berstatus istri. Maka terjadilah  pertempuran, Doyan Nede beserta saudaranya berhasil mengalahkan nakhoda dan anak buahnya. .Seluruh isi kapal milik nakhoda diserahkan kepada Doyan Nede begitu pula anak buahnya untuk dijadikan abdi.


Setelah nakhoda itu mengetahui bahwa putri itu adalah yang sebenarnya putri Majapahit, putri Madura dan Jawa Tengah, maka mereka tunduk mengabdi. Doyan Nede membangun Jero Baru, kemudian diserahkan kepada Tameng Muter. Sedangkan Doyan Nede mencari ayahnya Pengulu Alim di Seleparang, dan di sana ia mendirikan kerajaan Selaparang. Sedangkan Sigar Penyalin diutus untuk membangun kerajaan di daerah utara yaitu di Sembahulun,( Sembalun).


Kisah selanjutnya, Raden Sigar Penyalin melanjutkan pengembangan wilayah samapai ke Pulau Menang ( Bayan ). Di sana ia mendirikan kerajaan Bayan, yang akhirnya kerajaan dilanjutkan oleh putranya yang pernah hilang di Bilok Petung.


Mengenai kerajaan Pejanggik, dikisahkan bahwa putra Doyan Nede dari perkawinannya dengan Mas Ari Kencana mendirikan kerajaan Pejanggik. Pada awal kisahnya, Dewi Mas Ari Kencana mengidamkan putranya dan saat mengidam ia sangat ingin makan mangga yang bernama Poh Jenggik. Setelah berhasil didapatkan, maka biji Poh Jenggik itu ditanam di sebelah timur Peraya dan inilah cikal bakal kerajaan Pejanggik, Di kemudian hari raja Pejanggik bergelar Dewa Mas Meraja Kusuma.


Mengenai Tameng Muter yang memimpin kerajaan Jero Baru, mempunyai putra yang sangat cerdas dan tampan. Putranya ini kemudian mendirikan kerajaan Langko dengan gelar Pangeran Langkasari. Banyak kalangan yang  sependapat dengan babad ini bahwa inilah cikal bakal berkembangnya kerajaan-kerajaan di pulau Lombok, yaitu generasi penerus pulau ini merupakan keturunan dari orang-orang sakti pada zaman dahulu.


Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.

read more

Kamis, 31 Januari 2013

Babad Lombok

Babad Lombok berpengantar bahasa Jawa Kuno (Kawi) setelah pemaparan mukaddimah (exordium) barulah mulai bertutur mengenai Nabi Adam dan Hawa.


Sepeninggal Nabi Adam, para iblis melakukan propaganda besar-besaran untuk menyesatkan umat manusia. Iblis-iblis ini mengatakan kepada umat manusia bahwa mereka sudah bertemu dengan Nabi dan mendapat pesan dari Nabi Adam untuk manusia. Isi pesan tersebut ialah barang siapa yang hendak bertemu dengan Nabi Adam hendaklah ia mendirikan sanggah, sanggar serta sesaji. Babi, anjing, tuak dan berem dihalalkan semua. Ajaran ini kemudian disebut wratsari, dibawa oleh pendeta gurundeh dari Buda Klin. Maka banyaklah umat manusia yang terseret ke dalam ajaran iblis.


Pada masa berikutnya, Nabi Nuh Alaihissalam menyebarkan ajarannya.Ada sebagian umat manusia dari negeri Talpaman yang ingkar. Manakala hukuman Tuhan turun, berupa serangan Raja Amir Hamzah yang berasal dari Negeri Mekkah,maka kaum Talpaman melarikan diri dari negerinya dan sampailah mereka di pulau Lombok. Di pulau Lombok mereka menyerang sebuah desa yang bernama desa Laek. Penduduk desa ini kemudian melarikan diri dan mendirikan sebuah desa baru yang diberi nama desa Pamotan.


Babat Lombok juga  menuturkan pula bagaimana rakyat Pamotan memilih dan menobatkan rajanya. Mereka memilih seorang di antara mereka yang berbudi baik,berwibawa dan berpikiran cerdas untuk dijadikan rajanya. Setelah salah seorang terpilih  dibuatkanlah rumah, diberi pakaian yang baik, kuda dan senjata untuk sang raja.


Meletusnya gunung Rinjani selama tujuh hari tujuh malam mengakibatkan kehancuran besar. Puluhan ribu manusia meninggal dan sisanya yang selamat mengungsi ke puncak-puncak bukit. Setelah keadaan aman kembali, penduduk yang terkena musibah kemudian mendirikan sebuah desa baru yang diberi nama Jero Baru (Jerowaru).


Selanjutnya kedatangan orang Jawa dari kerajaan Maja Pahit, kemudian menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Lombok dan Bayan. Konon putra raja Maja Pahit yang sulung menjadi Raja Lombok dan adiknya menjadi Raja di Bayan.


Bagian selanjutnya dari babad ini menuturkan kisah asmaara yang berujung tragis antara Lala Seruni dengan Sandubaya.raja Lombok bernama Kerta Jaya, yang tergila-gila pada Lala  Seruni. Kerta Jaya  telah melaksanakan tipu daya dan menyuruh membunuh suami Lala Saruni (Sandubaya) di hutan perburuan Gebong. Namun akhirnya sang pembunuh pun menemui ajalnya karena membanting diri ke batu ketika Lala Seruni dibawa oleh Cukli Ajaib ke tengah Samudra untuk menyatu dengan roh suaminya.


Perang pun terjadi antara prabu Lombok dengan Demung Brangbatun (kakak Sandubaya). Peperangan berlangsung cukup lama, baru berakhir di masa Prabu Rangkasari, pengganti Prabu Lombok Kerta Jaya.


Yang menarik dari cerita ini adalah pelaksanaan perang yang dilakukan secara aneh, yaitu dengan bersenjatakan binatang laut (pasukan kerajaan Lombok) melawan pasukan kerajaan Brangbantun yang bersenjatakan jajan dan bahan makanan lainnya. Bentuk perang seperti ini diusulkan oleh Prabu Rangkasari karena ingin menghindari korban manusia dan harta benda.


Bagian selanjutnya dari babad Lombok menceritakan perjalanan muballigh Islam di bawah pimpinan Sunan Giri Prapen untuk menyebarkan Agama Islam di Gugusan Sunda kecil. Bersama beliau adalah Patih Madura, Jayeng Lengkara, Tumenggung Semarang, Tumenggung Surabaya, Patih Mataram,dan Patih Tuban. Pada saat itu Agama orang Sasak adalah  agama Wratsari (suatu bentuk agama asli Sasak pada waktu lampau). Pada masa masuknya Islam ini pusat kerajaan dipindahkan ke bagian tengah daratan yaitu ke Selaparang.


Babad Lombok ini kemudian bertutur mengenai kehidupan kerajaan Pejanggik dengan rajanya Wirocandra. Dikisahkan ada seorang Patih Muda yang bergelar Banjar Getas telah membuat begitu banyak ulah sehingga kerajaan Pejanggik Jatuh ke tangan kekuasaan Bali. Berikutnya,kekuasaan Selaparang juga terpaksa harus menyerah kepada raja Karang Asem Lombok, meskipun raja dan rakyatnya telah berjuang dan mengorbankan segala-galanya demi Bangsa dan Negaranya.Tuturan mengenai polah tingkah Banjar Getas inilah yang memenuhi alur cerita bagian akhir dari babad Lombok ini.


Sumber : Bahan Ajar Muatan lokal gumi sasak untuk SD/MI Kelas V oleh H. Sudirman dkk.

read more